Kolaborasi Kekinian Rendy Pandugo dan Musisi Swedia

randy_remixes_preview-1000x630.pngMei 2017 – Randy Pandugo kembali mendapat respon positif bagi penikmat musik tanah air lewat single barunya yang berjudul Silver Rain. Lagu berbahasa Inggris ini dibuat Randy saat workshop di The Kenel Studio, Swedia setahun silam bersama duo musisi Swedia Cage dan Oneye. Tidak mau ketinggalan zaman, Randy menggabungkan dua aliran musik sekaligus, yaitu EDM dengan folk akustik.

Selain kualitas musik yang kekinian, dalam pembuatan video klip Rendy kembali menunjukan kualitas dirinya sebagai musisi kelas kakap. Hal ini dikarenakan keberaniannya menggaet sutradara Sakti Mahendra yang terbiasa menggarap video untuk artis papan atas tanah air. Video klip ini dibuat bertemakan kisah cinta dua sejoli yang melihat kembali kenangannya selama 20 tahun kebelakang.

“Cerita video klip ini menarik. Dikisahkan mereka menyukai khayalan tentang alien dan UFO. Mereka pun melakukan janji yang tertulis di bucket list, misalnya lomba sepeda, menonton film-film bertema UFO secara maraton, dan yang paling mengasyikkan yaitu kemping bareng,” tegas musisi penyuka fotografer tersebut.

Lokasi pengambilan video klip dilakukan di Jakarta dan gunung Bromo. Sabana gunung Bromo menjadi pilihan yang tepat untuk menggabungkan nuansa petualangan dengan kisah cinta. Untuk model dalam video klip produser mempercayakan Putri Marino karena terkenal kepiawaiannya dalam membawakan salah satu acara TV terkenal “My Trip My Adventure” serta memiliki jiwa petualang tinggi. Walaupun dalam pembuatan video klip Rendy Pandugo dan tim harus kamping di Sabana Bromo demi mendapatkan scene untuk crop circle hunt, mereka merasa hasilnya sungguh memuaskan.

Official video klip ini rilis di VEVO Rendy Pandugo pada 28 Juli 2017 pukul 19.00 WIB. Sedangkan album solo Rendy Pandugo berjudul The Journey bisa dinikmati pada 11 Agustus 2017 di semua layanan digital.

Iklan

Sejarah Online Journalism Dunia & Indonesia

           Jurnalisme online merupakan salah satu penyajian baru mengenai sebuah informasi dan fakta dengan dukungan dari teknologi yang semakin maju yaitu internet. Jadi jurnalisme online di konsumsi melalui jaringan internet yang langsung terhubung ke media online. Salah satu contoh perwujudan jurnalisme online adalah weblog.

           Perkembangan teknologi yang semakin cepat saat ini mendorong khalayak untuk dapat menggunakan media online, salah satunya dalam mengakses jurnalisme online. Perpindahan jurnalisme dari analog ke online membuat beberapa media cetak melebarkan sayapnya dan mulai menciptakan suatu inovasi baru dalam membaca sebuah berita dan mendapatkan informasi. Pada tahun 1990-an muncul teknologi internet yang membuat mudahnya pelaksanaan jurnalistik. Tepat pada tanggal 19 Januari 1998, Mark Drudge mempublikasikan sebuah kisah perselingkuhan antara Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton dengan Monica Lewinsky di dalam website Druge Report. Saat itu dengan bermodalkan laptop dan modem, Drugde mulai menceritakan mengenai “Monicagate” melalui sebuah internet yang secara langsung dapat diakses oleh semua orang. Munculnya kisah tersebut sebagai awal lahirnya jurnalisme online di Dunia dan mulai merambah ke belahan bumi lainnya. Lalu pada tahun 2000-an mulai munculnya situs-situs pribadi yang menampilkan sebuah laporan jurnalistik pemiliknya dari sebuah blog. Perkembangan internet dan jurnalisme online merambah hingga ke Indonesia.

            Di Indonesia muncul pertama kali jurnalisme online pada tahun 1990-an dimana ada beberapa orang, Rahmat M. Samik, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu Surya, Firman Siregar, Adi Indrayanto, dan Onno W. Purbo yang tertarik membangun sebuah jaringan komputer (Margianto & Sayefullah, hal 27). Pada tahun 1994, internet mulai mengemuka di publik ketika jasa layanan internet komersil pertama kali muncul yaitu Indonet. Di tahun yang sama pula muncul Republika Online yaitu http://www.republika.co.id yang hadir tepat pada 17 Agustus 1994, satu tahun sejak Harian Republika terbit. image: http://www.republika.co.id Tahun berikutnya, 1996 ada beberapa karyawan tempo yang “menganggur” karena majalah Tempo yang sempat dibredel rezim orde baru pada tahun 1994 mendirikan sebuah tempointeraktif.com yang kini berubah menjadi http://www.tempo.co. Bisnis Indonesia juga meluncurkan sebuah situs pada 2 September 1996. Di luar Jakarta, 11 Juli 1997 muncul juga http://www.waspada.co.id dari Harian Waspada di Sumatera Utara. Tak lama setelah itu muncul pula Kompas Online yaitu http://www.kompas.com pada tanggal 22 Agustus 1997. Itu semua merupakan media online pertama yang muncul di Indonesia. Media-media online tersebut hanya memindahkan halaman dalam versi cetak ke versi online. Kecuali tempointeraktif yang tidak memiliki edisi cetak sebelumnya (Margianto & Sayefullah, hal 28). Menurut buku Media Online milik Margianto dan Sayefullah ini menceritakan bahwa Edi Taslim selaku Vice Director PT. Kompas Cyber Media mengatakan bahwa awal konsep Kompas online yaitu hanya memindahkan dari konten Harian Kompas dalam versi cetak ke bentuk digital atau online. Selain itu berbeda dengan media online lainnya yang mengubah versi cetak ke versi online, Redaktur tempo.co yang dulunya bernama tempointeraktif ini mengatakan bahwa tempo.co bukan bentuk online dari Majalah Tempo yang sempat dibredel pada tahun 1994, melainkan tempo.co didesain seperti majalah yang di update secara mingguan (Margianto & Sayefullah, hal 29) . image: http://www.detik.com Sempat dikatakan sebelumnya bahwa berita-berita yang tayang di dalam media-media online tersebut bersifat statis. Namun tahun 1998 media online yang sebelumnya dikatakan statis, sejak munculnya detik.com berubah tidak statis. Detik.com muncul berawal dari empat sekawan yaitu Budiono Darsono, Yayan Sopyan, Abdul Rahman dan Didi Nugrahadi mengunggah http://www.detik.com pada 9 Juli 1998.

             Detik.com muncul tidak berawal dari media cetak, detik.com muncul sebagai media online yang otonom.  Awal munculnya detik.com berawal dari perubahan sosial politik pada tahun 1998 yang menggerakan Budiono untuk membuat sebuah media baru yang tidak mudah untuk dibredel dan dapat memberikan sebuah informasi yang cepat tanpa harus menunggu untuk dicetak keesokan paginya. Detik.com di dalam penulisan berita memegang peranan tulisan yang ringkas dan to the point. Namun karena detik.com itu memiliki tujuan dalam memberikan informasi yang cepat, terkadang detik.com tidak lengkap dalam unsur 5W + 1H yang biasanya di pakai sebagai acuan dalam penulisan jurnalistik. Pada akhir tahun 1990-an, dunia mulai dilanda dengan booming dotcom, yaitu munculnya situs-situs lokal termasuk di dalamnya situs berita. Di Indonesia tak kalah ikut mengalami booming dotcom tersebut, beberapa situs berita yang lahir pada tahun 2000an adalah astaga.com, lippostar.com, satunet.com, kopitime.com, dan berpolitik.com (Margianto & Sayefullah, hal 30). Masuk ke tahun 2002, media-media tersebut mulai berguguran karena tak mampu untuk mengeluarkan biaya yang cukup banyak akibat dari biaya operasional media online.  Salah satu media yang terkena dampak krisis tersebut adalah detik.com. Namun meski begitu detik.com tetap bertahan walaupun pada akhirnya tetap memutuskan hubungan kerja terhadap sejumlah karyawannya karena kekurangan akan dana. Terdapat dua media online lain yang tetap dapat bertahan yaitu kompas.com dan tempointeraktif.com. Kedua media tersebut tidak dapat hancur karena ditopang oleh media induknya yang berbasis cetak.

              Agar tidak mengalami krisis yang semakin parah, Kompas.com yang dulunya di kenal sebagai Kompas Cyber Media atau KCM tetap mempertahankan media onlinenya. Selain itu republika.co.id juga memperbarui lamannya agar tetap bertahan dan menarik untuk di baca. Ada sejumlah media yang masih mempertahankan situsnya, yaitu suarapembaruan.com, mediaindonesia.com, dan bisnis.com (Margianto & Sayefullah, hal 31). Pada awal tahun 2003an, muncul http://www.kapanlagi.com sebagai salah satu situs hiburan yang kemudian berkembang menjadi media hiburan terpopuler di jagat internet Indonesia. Salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia, PT Media Nusantara Citra (MNC) tak kalah ingin mengikuti pergerakan media lainnya dengan membuat media online yang bernama http://www.okezone.com yang resmi diluncurkan pada 1 Maret 2007. Okezone menjadi tanda untuk bangkitnya kembali media online di Indonesia.  image: http://www.kapanlagi.com Seiring dengan semakin bertambah majunya teknologi internet dan media online membuat semakin banyaknya bermunculan media-media online terutama jurnalisme online di Indonesia. Tampilan yang mereka berikan juga semakin beragam dan lebih atraktif. Selain itu media-media berita online itu juga memberikan tempat bagi para pembacanya untuk memberikan ruang bagi pembaca berinteraksi antar pembaca lainnya. Pembaca dapat memberikan komentar terhadap sebuah artikel berita tersebut, dan disediakan juga ruang diskusi di dalam sebuah forum seperti detik.com memberikan ruang berupa detikblog dan kompas.com memberikan kompasiana.com (Margianto & Sayefullah, hal 34).

Prinsip Jurnalistik Online
Paul Bradshaw dalam “Basic Principal of Online Journalism“ menyebutkan lima prinsip dasar jurnalistik online, yaitu B-A-S-I-C: Brevity  Adaptability  Scannability  Interactivity – Community  – Coversation.

  1. Keringkasan (Brevity). Berita dituntut untuk bersifat ringkas, untuk menyesuaikan kehidupan manusia dan tingkat kesibukannya yang semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan istilah umum komunikasi ‘KISS’, yakni Keep It Short and Simple.
  2. Adaptabilitas atau kemampuan beradaptasi (Adaptabilty). Para jurnalis daring dituntut agar mampu menyesuaikan diri di tengah kebutuhan dan preferensi publik. Dengan adanya kemajuan teknologi, jurnalis dapat menyajikan berita dengan cara membuat berbagai keragaman cara, seperti dengan penyediaan format suara, video, gambar, dan lain-lain dalam suatu berita.
  3. Dapat dipindai (Scannability). Untuk memudahkan para audiens, situs-situs terkait dengan jurnalisme daring hendaknya memiliki sifat dapat dipindai, agar pembaca tidak perlu merasa terpaksa dalam membaca informasi atau berita.
  4. Interaktivitas (Interactivity). Komunikasi dari publik kepada jurnalis dalam jurnalisme daring sangat dimungkinkan dengan adanya akses yang semakin luas. Pemirsa (viewer) dibiarkan untuk menjadi pengguna (user). Hal ini sangat penting karena semakin audiens merasa dirinya dilibatkan, maka mereka akan semakin dihargai dan senang membaca berita yang ada.
  5. Komunitas dan percakapan (Community and Conversation). Media daring memiliki peran yang lebih besar daripada media cetak atau media konvensional lainnya, yakni sebagai penjaring komunitas. Jurnalis juga harus memberi jawaban atau timbal balik kepada publik sebagai sebuah balasan atas interaksi yang dilakukan publik tadi

Keunggulan Jurnalistik Online

  1. Audience Control. Jurnalistik Online memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para audiens untuk terlibat langsung dalam memilih dan mencari berita yang diinginkannya
  2. Non-Linearity. Informasi-infomasi dalam Jurnalistik Online bersifat “independen” atau dapat berdiri sendiri, sehingga audiens tidak perlu membaca urutan atau rangkaian berita lainnya untuk dapat memahami suatu masalah
  3. Storage and Retrieval. Jurnalistik Online memberikan kemudahan bagi audiens untuk menyimpan dan mengakses kembali informasi-informasi yang ada
  4. Unlimited Space. Dengan didukung oleh kapasitas internet yang sangat besar, Jurnalistik Online dapat menyediakan informasi yang lengkap untuk audiens
  5. Immediacy. Informasi dalam Jurnalistik Online dapat diakses secara langsung oleh audiens tanpa perantara orang ketiga
  6. Multimedia Capability. Jurnalistik Online memungkinkan tim redaksi untuk menyediakan berbagai bentuk informasi, seperti gambar, video, suara, dan lain-lain
  7. Interactivity. Jurnalistik Online meningkatkan level interaktivitas antara audiens dengan setiap berita atau informasi yang diakses. (www.romeltea.com).

Karakter Jurnalistik online yang disebutkan Rey G. Rosales dalam Elemenet of Online Journalism ( Universe, 2006 ) yaitu:

  • Headline
  • Text
  • Picture
  • Graphic
  • Related Link
  • Audio
  • Slide Show
  • Animation
  • Interactive Feature
  • Interactive  Games

Selengkapnya :

http://www.kompasiana.com/andeskagladiaventa/sejarah-jurnalisme-online-di-dunia-dan-indonesia_56e3edec3dafbdaa1ca9beb4

(Sumber: Jurnalistik Online: Panduan Praktis Mengelola Media Online, karya Asep Syamsul. M Romli, Penerbit Nuansa Cendikia Bandung, 2012; onlinejournalismblog.com; ojr.og)